Mobile-Internet based Economy

Posted on Desember 12, 2011

0


Suatu hari saya berbincang dengan teman saya dari Fakultas Ekonomi UI. Ia berkata kalau ia baru saja berbincang dengan Rhenald Khasali, dosennya, tentang masa depan ekonomi Indonesia. Pak Rhenald berkata bahwa sekarang Indonesia adalah kekuatan ekonomi terbesar ke-3 di Asia setelah China dan India. Namun pada 2025, seburuk apapun pertumbuhan Indonesia, minimal kita akan menjadi negara dengan ekonomi terbesar ke-8 di dunia.

Baru 1 bulan yang lalu kalau saya tidak salah, Indonesia memasuki fase GDP $3000/kapita. Atau teman-teman ekonom saya menyebutnya Consumer 3000. Negara yang memasuki fase ini, biasanya akan mengalami pertumbuhan yang sangat cepat (accelerated development) seperti yang dialami China, Korea, dan Jepang. Hal ini terjadi karena masyarakat kelas menengah yang sudah sangat besar proporsinya dan memainkan peranan strategis dalam menggerakkan perekonomian. Sesuai dengan Teori Piramida Kebutuhan oleh Maslow, pada tahap ini masyarakat sudah dapat memenuhi kebutuhan dasarnya, dan bergerak kearah memenuhi kebutuhan sekundernya, seperti bersenang-senang.

Namun, kata Pak Rhenald, yang lebih mengejutkan adalah dengan begitu cepatnya pertumbuhan consumer power di Indonesia, pada tahun 2014 Indonesia sudah memasuki Consumer $5000. Yang artinya pertumbuhan kelas menengah yang sangat cepat. Pertumbuhan orang-orang kaya baru, yang haus akan pemuasan kebutuhan sekunder, memiliki kemampuan berbelanja (buying power) tinggi, tingkat konsumpsi tinggi, teredukasi, penuh informasi, akrab dengan teknologi, dan selalu terkoneksi.

Disini saya ingin membahas pertumbuhan ekonomi dengan basis internet, yang menjadi rangkuman dari semua ciri ‘orang kaya baru’ yang saya sebutkan 3 baris diatas. Kenapa internet? Karena saat Tim-Berners Lee memutuskan bahwa www temuannya gratis, ia tanpa sadar telah menciptakan dunia baru. Dunia yang mengkoneksikan segalanya, tanpa batas. Dan hubungan tanpa batas itulah yang menjadi tulang punggung perkembangan dunia baru.

Di Indonesia, berdasarkan hasil survey AC Nielsen October 2011 berjudul “The Digital Media Habits and Attitudes of Southeast Asian Customer” yang saya temukan, terdapat fakta-fakta tentang penggunaan internet di Indonesia.

Ternyata, tingkat adopsi internet di Indonesia masih rendah dibandingkan negara-negara Asean lainnya. Walaupun dari segi potensi jumlah penduduk dan kekuatan ekonomi, Indonesia mungkin yang memiliki potensi paling besar.

Dari grafik diatas, ternyata di Indonesia tingkat penetrasi internet tertinggi adalah melalui Internet Capable Mobile Phone, atau mudahnya Handphone (HP) yang memiliki akses internet. Mungkin untuk sebagian dari kita akan terkejut, betapa besarnya tingkat penetrasi Internet HP dibandingkan dengan menggunakan PC ataupun Laptop sekalipun. Hal inilah yang mungkin jarang disadari sebagian marketer. Seperti yang saya singgung diatas, kekuatan ekonomi kita ditopang oleh orang kaya baru. Dimana akses mereka kepada internet utamanya melalui HP, karena paling terjangkau dari segi harga, dan paling memiliki fungsi utilitas dibandingkan PC maupun Laptop bagi mereka. Bisa dilihat dengan menjamurnya HP China yang menyasar target market ‘orang kaya baru’ tadi

Jangan salah, bahwa pemegang market share terbesar ketiga di Indonesia untuk HP, bukanlah Samsung, Motorola, atau bahkan Sony Ericsonn, tapi Nexian. Ya, HP China ini memiliki market share 7.5% dari keseluruhan pasar. HP yang baru masuk sekitar 4 tahun lalu ini menjadi bukti, bahwa dengan membawa ‘konektifitas internet’ yang dibundling dengan barang yang memiliki ‘utilitas tinggi namun murah’ dan menyasar ‘orang kaya baru’ adalah suatu resep pertumbuhan menjanjikan dari sisi bisnis.

Lalu sekarang, apa yang dapat dilakukan dengan internet di HP China ini? Disinilah letak inovasinya. Terdapat beberapa hal yang barangkali bisa diulik para marketer di Indonesia. Masyarakat menengah yang semakin cerdas dan memiliki akses penuh terhadap informasi, memiliki sindrom Value-Oriented Customer. Konsumen menengah baru ini, walau sudah memiliki uang yang cukup untuk terkoneksi, namun masih cukup perhitungan dengan faktor biaya-utilitas. Dimana mereka selalu melihat value yang didapat dengan uang yang dibayarkan. Sehingga, yang bisa dilakukan adalah menambah utilitas koneksi internet dalam HP China sehingga valuenya naik.  Menambah utilitas dari barang yang sudah terbukti affordable dan memiliki tingkat penetrasi tinggi adalah jalan yang cemerlang dari segi bisnis model baru yang saya tawarkan.

Ada beberapa inovasi yang bisa dipraktikan, diantaranya:

Mobile Phone  Shopping

Hal ini sudah pernah dipraktikkan di Korea, dimana cutomer yang ingin membeli barang di pasar retail Tesco, dapat menggunakan Mobile Phone untuk melihat katalog, dan kemudian melakukan pembayaran via kartu kredit. Di Indonesia, inovasi tersebut bisa dilakukan dengan beberapa modifikasi. Pertama, uang yang digunakan untuk berbelanja diganti dengan Pulsa Telepon. Hal ini sudah pernah dilakukan oleh Telkomsel dengan Telkomsel-Cash atau T-Cash. Namun kurang bergaung karena tidak dibundling dengan approach bisnis dan marketing yang tepat. Sebenarnya kultur berbelanja lewat HP di Indonesia sudah ada basicnya, dimana kita lihat orang-orang yang berbelanja Ring Back Tone dan SMS Premium berbayar yang selalu bernilai miliaran rupiah setiap tahunnya. Ini artinya, kita tinggal memberikan opsi barang dan jasa yang dapat mereka beli melalui internet di HP.

Misalnya adalah Toko Retail Online, dimana orang-orang dapat melakukan pembelanjaan barang kebutuhan sehari-hari lewat Internet HP. Sistem Dealkeren.com dapat kita gabungkan juga dalam sistem ini. Dimana toko retail online tersebut dapat memberikan potongan harga khusus dengan promo tertentu dibandingkan dengan membeli langsung di tokonya. Hal ini tentu akan memancing tumbuhnya culture baru yaitu belanja melalui HP. Infusi teknologi kedalam suatu kebudayaan dan kebiasaan tentu saja akan memakan waktu. Tapi dengan pertumbuhan ekonomi dan teknologi seperti sekarang ini, tidak lama lagi semua kegiatan akan dilakukan secara online, termasuk berbelanja.

 

Personal Mobile News Feed

Semua orang butuh update, berita, dan informasi terbaru. Dengan adanya twitter, citizen journalism menjadi pilihan utama semua kalangan untuk mendapatkan informasi tercepat, padat, dan teraktual. Namun sebenarnya masih banyak fungsi yang bisa dimaksimalkan dari gejala ini. Saya akan mengajukan suatu ilustrasi mengenai peluang yang bisa dimaksimalkan. Di twitter, anda harus membaca ‘timeline’ satu harian untuk mendapatkan berita terbaru. Jika ada berita terbaru, berapa persen kah yang benar-benar penting untuk anda? Mungkin hanya sebagian kecil, sisanya akan dilewat begitu saja. Peluang inilah yang bisa ditangkap para marketer terutama para penyedia berita.

Dari 20 twit berita dari suatu account penyaji berita, mungkin hanya 1 atau 2 yang benar-benar sesuai dan dibaca. Lantas, mengapa tidak menyediakan suatu layanan berbayar yang hanya akan memberikan berita dan informasi yang dibutuhkan orang tersebut? Ini saya istilahkan dengan Personal Mobile News Feed. Dimana penyaji berita, dapat memberikan sebutlah 20 berita pilihan dari berbagai sumber yang langsung berhubugnan dengan profile si customer. Update berita tersebut dapat dikirmkan melalui aplikasi khusus di HP customer. Jadi seorang Musisi, hanya akan mendapatkan update berita terbaru mengenai musik dan gaya hidup. Seorang penggemar sepak bola juga hanya akan mendapatkan berita mengenai bola dan olahraga. Dengan pendekatan ini, berita dan informasi yang disajikan akan menjadi lebih valuable dan berharga, karena semua berita dan informasinya berharga dan akan dibaca oleh customer.

 

Iklan
Posted in: Uncategorized