Sebuah Konklusi Tengah Semester

Posted on Oktober 9, 2011

0


A.

Dalam menjawab soal Creativity and Innovation, saya berasumsi bahwa jawaban yang baik adalah jawaban yang kreatif dan inovatif. Sehingga saat ada pertanyaan tentang apa prospek kreativitas mahasiswa, jawaban yang dibutuhkan bukanlah sekedar daftar peluang kreativitas yang biasa terlintas dan asal jadi, tapi jawaban yang unik, dan melihat kondisi soal dari cara yang lain, cara yang kreatif.

Mahasiswa adalah Pokemon Snorlax. Yang besar, gendut, pemalas, hobinya makan, dan memblokir jalanan karena ukurannya yang besar. Tapi sekalinya ia bangun, langkah kakinya menggetarkan kota, suaranya mengusir burung-burung, dan pukulannya meratakan tanah. Itu adalah profilnya dari mahasiswa. Kesamaan Snorlax dan mahasiswa terletak pada mahasiswa bisa menjadi sesuatu yang luar biasa jika mereka berani, mau, berkehendak, berkeinginan, berani mencoba, dan nekat untuk berkreasi atau berinovasi.

Menurut teori ada 5 tingkatan kreativitas mulai dari kreatif untuk diri sendiri hingga tingkatan tertinggi yaitu kreatif karena membuat orang lain kreatif. Juga ada 4 tingkatan inovasi mulai dari inovasi teknologi hingga inovasi model bisnis. Saya bisa mengajarkan adik saya kelas 5 SD untuk menhafalnya. Tapi sejujurnya mahasiswa tidak butuh tau itu. Benar benar tidak butuh.  Menurut seorang mahasiswa, teori tidak lebih dari intisari dari proses atau kejadian, yang di tulis dalam kata-kata agar lebih mudah diingat, dimengerti, dan dihafal. Tapi tidak untuk diimplementasikan. Masalah implementasi masalah beda, saya pastikan. Ada berapa puluh entrepreneur yang berbicara dan memotivasi saya dan teman-teman setiap tahunnya di salah satu mata kuliah. Namun adakah progress bagi kami? Tidak. Sekali lagi, teori dan cerita yang mereka bawakan hanya akan memudahkan kami untuk mengerti dan mengingat. Seperti seorang anak SD yang diminta menghafalkan 99 nama Tuhan, tapi tidak pernah diajarkan cara untuk percaya bahwa tuhan itu ada dan untuk apa.

Sekali lagi, kreasi dan inovasi mahasiswa, BUKANlah tentang teori, tapi tentang nyali.

Oke kembali ke formalitas untuk menjawab soal.

Dizaman sekarang ini, peluang, prospek, dan kesempatan sangat banyak dihadapan mahasiswa, tinggal bagaimana cara mahasiswa tersebut melihatnya dan mengambil keuntungan darinya. Jika diminta diidentifikasi satu persatu, maka sama saja dengan menghitung bintang dilangit. Tapi saya akan menceritakan tentang 3 peluang dan prospek inovasi dan kreasi mahasiswa favorit saya, bukan dari Saya Sebagai Mahasiswa, tapi Mahasiswa dilihat dari sudut pandang objektif yang berbeda-beda.

1. Mahasiswa sebagai pool of early adaptor bagi industri

Di istilah kan dalam dunia marketing, bahwa hanya 10 persen dari pasar yang bisa dipengaruhi untuk memasarkan suatu barang, apapun itu, dan mereka adalah Early Adaptor. Jika marketer mencoba mempengaruhi pasar, mereka hanya bisa mempengaruhi orang-orang yang cukup berani untuk mengambil peluang untuk memakai produk baru, yaitu para Early Adaptor, para Mahasiswa. Sehingga mahasiswa adalah sumber dari trend

yang masih sering disia-siakan marketer. Pada faktanya, mahasiswa adalah kaum inteligen yang independen, punya uang, tapi tidak ada tanggungan. Apa yang bisa lebih surgawi dari pada itu? Sehingga, mahasiswa walau kecil dalam jumlah namun memiliki kekuatan dan pengaruh yang besar dalam mempengaruhi pasar. Makanya saya heran, kenapa produk2 sibuk mengiklankan produknya pada ibu-ibu dan bapak-bapak yang sebenarnya tidak ada motivasi untuk beralih ke produk baru yang ditawarkan karena sudah nyaman dengan memakai produk baru. Cobalah melihat ke kaum mahasiswa dan potensi mereka, pengaruhilah, maka jika berhasil menarik 10 persen Early adaptor, perlahan lahan 90 persen sisanya akan mengikuti. Dan itulah peluang, prospek, dan kesempatan dunia industri, terutama industri kreativ dan inovatif kepada mahasiswa yang selama ini belum tersentuh.

2. Mahasiswa sebagai sumber kekuatan politik yang kreativ.

Mungkin terdengar klise, tapi coba bayangkan ilustrasi ini. Kenapa polisi lebih takut kalau ada mahasiswa demo dibandingkan kalau petani demo? Karena mahasiswa dihitung sebagai identitas yang tak terhingga dimana identitas petani hanyalah petani. Sungguh kreativitas yang unik. Hanya mahasiswa yang bisa demo mengatasnamakan buruh, mengatasnamakan petani, mengatasnamakan guru, dan lain lain. Kreativitas dalam politik itu sebenarnya sudah diawali dengan cukup baik. Tinggal dibutuhkan inovasi untuk menindaklanjutinya seperti dengan terjun ke partai politik beramai ramai dan membuat perubahan. Hal ini yang masih kurang, karena inovasi hanya berhenti di spanduk dan orasi jalanan, tapi tidak naik level ke inovasi partai politik dan sistem yang sebenarnya merupakan tanggung jawab moral para mahasiswa. Jika saja ada 10000 mahasiswa masuk partai politik, apa yang akan terjadi? Sebuah perombakan dan pembaharuan ideologi dan nama besar sistem politik, karena kreativitas dan inovasi yang pasti dibawa oleh mahasiswa tadi.

3. Mahasiswa sebagai sumber media dan informasi alternatif.

Saya yakin bukan saya saja yang muak dengan berita berita di Metro TV dan TV One. Siapa yang tidak bosan dengan permasalahan politik yang tiada habisnya setiap hari? Sebutlah ratusan kasus hari ini, dan besok akan terhapus dan terganti dengan ribuan kasus baru  yang lebih seru. Dimasa depan, terdapat ruang bagi kreativitas mahasiswa untuk memanfaatkan kesempatan dimana pasar mulai jenuh dengan media konvensional. Yaitu dengan media alternatif. Bisa dengan independen journalism, citizen journalism, creative journalism, dan hal hal lain yang bisa memberikan ruang bagi pembaca-pembaca mahasiswa. Bisa banyak sekali inovasi yang diciptakan untuk mahasiswa dibidang media. Sebutlah koran Kompas untuk mahasiswa, Majalah Gatra untuk mahasiswa, Majalah Tempo untuk mahasiswa, belum ada kan? Karena itulah terdapat ceruk yang sangat potensial untuk para mahasiswa bereksplorasi dalam hal Media Alternatif

B. 

Masalah masalah yang dihadapi mahasiswa dan menghambat kreatifitas dan inovasi. Nomer satu adalah nyali. Seorang wirausahawan yang sedang berjuang untuk mimpinya pernah berkata kepada saya bahwa cara terbaik untuk belajar berenang adalah naik kapal ke tengah laut dan loncat saja. Tidak ada teori, guru les, dan lain lain. Itulah yang menjadi masalah karena kebanyakan mahasiswa tau teori, sudah diberi motivasi, tapi tidak ada nyali. Mungkin karena terlalu intelek, maka mahasiswa mengitung peluang berhasil, menghitung peluang kenyamanan, menghitung, mempelajari, memperkirakan, dan mengasumsikan, tapi tidak mencoba. Kebanyakan orang kaya didunia berasal dari kondisi tidak mampu sehingga mereka tidak sempat menghitung peluang, mempelajari, memperkirakan, dan sebagainya. Yang mereka tau hanyalah berhasil dengan ini atau gagal sama sekali.

Permasalahan kedua adalah karena mahasiswa sekarang take for granted dengan nasibnya. Tidak bersyukur dan tidak menyadari betapa beruntungya kondisi mereka sekarang. Pernah saya ngobrol dengan Presiden Mahasiswa ITENAS, dan dia bercerita bahwa dikampusnya, jangankan untuk bermimpi tentang inovasi dan kreasi, mahasiswanya saja tidak bangga dengan kampusnya. Disitu saya tertegun, dengan segala privilage yang kami miliki sebagai anak ITB, seharusnya kita bisa jauh lebih hebat, jauh lebih superpower daripada ini.

C.

Solusinya yang saya tawarkan untuk mahasiswa ada beberapa poin. Yang pertama, jangan menunggu musuh untuk bisa bergerak. Orde Baru sudah lewat, tidak ada lagi yang perlu didemo. Kita hanya butuh bertindak sekarang, dan dimulai dari diri kita. Bertindak terbaik di area yang kita bisa. Yang kedua adalah jangan takut mencoba. Ayolah teman-teman, kau tidak akan bangkrut dan jatuh miskin kalau 2 atau 3 usaha mu gagal, memang masa masa mahasiswa seperti ini moment  untuk mencoba, moment untuk gagal. Daripada nanti pas sudah memiliki tanggungan, baru mencoba dan baru gagal, akan lebih repot lagi. Dan yang terakhir, mengenang kata kata Steve Jobs ‘jangan biarkan pikiran dan pendapat orang lain merusak ideologi dan pandanganmu. Teruslah melakukan apa yang kau yakini, karena dalam meraih kesuksesan, tidak ada yang lebih penting daripada itu’

Iklan
Posted in: Uncategorized